Respons Bencana Sulawesi Tengah

Palu, Indonesia: Sofian Adly (38) dari mitra Oxfam Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA), memasang filter air hidran bersama dengan para sukarelawan di luar kota Palu (Kredit: Hariandi Hafid/OxfamAUS).

Palu, Indonesia: Sofian Adly (38) dari mitra Oxfam Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA), memasang filter air hidran bersama dengan para sukarelawan di luar kota Palu (Kredit: Hariandi Hafid/OxfamAUS).

Oxfam di Indonesia bersama mitra dalam tanggap bencana yaitu Jejaring Mitra Kemanusiaan (Humanitarian Knowledge Hub) melakukan tanggap bencana di kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala dengan melakukan pemberian bantuan pada masa darurat dan transisi (early recovery) selama 12 bulan di sektor atau cluster yang sesuai dengan prioritas bantuan yang diminta pemerintah. Bantuan ini dalam sektor (1) air bersih atau WASH dan alat kebersihan; (2) terpal dan sarung; (3) cash transfer program – cash for work dan unconditional cash transfer; serta (4) gender dan perlindungan.

Tanggap bencana dilakukan setelah pada 28 September 2018, gempa dangkal melanda Semenanjung Minahasa, Sulawesi, Indonesia. Gempa itu terletak 77 km (48 mil) dari ibukota provinsi Palu. Menyusul guncangan utama, peringatan tsunami dikeluarkan untuk di dekat Selat Makassar, tsunami lokal melanda Palu, menyapu rumah-rumah dan bangunan-bangunan di pantai. Efek gabungan dari gempa bumi dan tsunami telah menyebabkan korban jiwa lebih dari 1000 orang. Program Manajer Kemanusiaan Oxfam di Indonesia Ancilla Bere, mengatakan: "Oxfam melakukan tanggap darurat bencana ini untuk menjangkau 500.000 orang dengan pasokan bantuan penting seperti peralatan pemurnian air dan paket penampungan." Oxfam juga akan memberikan sistem pemurnian air portable di area yang terkena dampak.

Pada bulan ke-4 program ini akan melakukan penyusunan pengembangan program yang sesuai kebutuhan masyarakat terdampak gempa di Sulawesi Tengah. Sasaran dalam program ini 500.000 penerima manfaat di lokasi wilayah kerja kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala dengan dipimpin mitra lokal dalam Jejaring Mitra Kemanusiaan beranggotakan JEMARI Sakato, CIS Timor, Aksara, Suar Indonesia, PKPA, KKSP, LP2DER, Sapda, PKBI Sulawesi Tengah, PKBI Sulawesi Selatan, LBH APIK Makasar dan LBH APIK Sulteng.

Lokasi Proyek

Sulawesi Tengah: Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Sigi;

Mitra Kerja

Kementerian Koordinasi: Dinas Pekerjaan Umum;

Mitra: Jemari Sakato, LP2DER, PKPA, SUAR, Konsepsi, CIS Timor, Aksara, KKSP, LBH APIK Makassar, LBH APIK Palu, PKBI Makassar, PKBI Palu, BNPB, BPBD terkait, AHA Center.

Publikasi Website

Sekretariat Jaringan-Antar-Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil – Lembaga Swadaya Masyarakat, atau selanjutnya disebut dengan singkatan S=JAJAR, adalah organisasi lintas jaringan dan sektor yang mandiri secara politik, teguh memegang nilai-nilai semesta organisasi masyarakat sipil, standar serta kode kemanusiaan dan pembangunan yang terkait.

Saat ini, S=JAJAR berkedudukan di Jakarta untuk lingkup nasional dan di ibukota provinsi, kabupaten, atau kota untuk lingkup daerah.

Visi dan Misi S=JAJAR

Visi:

Mendorong OMS-LSM secara aktif membantu, melengkapi dan ikut mengawasi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merespons pandemi, mendorong pemulihan dari dampak COVID-19, serta menjadikannya pondasi menuju pemulihan dalam kerangka pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.

Misi:

Menyediakan dan mengembangkan layanan yang memberi nilai tambah bagi OMS-LSM dan masyarakat umum dalam hal pertukaran informasi, pengembangan strategi, penguatan basis dan kerjasama di antara sesama OMS-LSM sendiri di lingkup nasional, provinsi, kabupaten/kota hingga akar rumput, serta dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menuju Website S=JAJAR yang dapat diakses melalui alamat sejajar.id